Bagian dari seri wawancara Pentau Project mengenai pelaku usaha mikro di balik rantai distribusi jajanan Kota Balikpapan.
Bagi mayoritas masyarakat Balikpapan, membeli jajanan kemasan ulang (repack) seharga lima ribu rupiah di warung kecil adalah bentuk konsumsi sehari-hari yang terjangkau. Namun, di balik produk eceran tersebut, ada rantai distribusi bertahap yang menghubungkan industri skala besar hingga sektor informal.
Sebelum sampai ke tingkat pengecer, produk grosir melewati rantai distributor dan agen, lalu dikemas ulang oleh pelaku usaha mikro untuk dibagi ke dalam kemasan berporsi kecil yang siap dijual.
Pesatnya perkembangan usaha makanan ringan sejak dekade 2010-an menjadi awal mula sekaligus latar belakang Bu Sundari memulai usahanya. Usaha yang telah dijalankan selama 15 tahun ini berawal hanya untuk kebutuhan pribadi dan keluarga. Namun, respons positif dari lingkungan sekitar dan banyaknya permintaan terhadap produk eceran membuat Bu Sundari terdorong untuk menaikkan jumlah produksinya.
Dalam menjalankan usahanya, Bu Sundari menerapkan sistem produksi fleksibel yang disesuaikan dengan volume pesanan pembeli maupun kebutuhan pajangan toko. Bahan pasokan makanan dibeli secara grosir, sementara bahan kemasan plastik tebal didapatkan dari pasar-pasar tradisional di Balikpapan.
Seluruh tahapan pengemasan — mulai dari membuka pasokan besar, menimbang porsi, hingga menyegel plastik — dikerjakan secara manual di rumahnya. Bu Sundari mampu memproduksi 20 hingga 50 bungkus dalam sepekan. Produk tersebut rutin disalurkan ke warung-warung warga, toko camilan, pemesan langsung, hingga koperasi SMKN 6 Balikpapan.
Di tengah iklim usaha mikro saat ini, lonjakan harga bahan baku dan plastik kemasan di pasar tradisional menjadi tantangan operasional utama bagi para pelaku usaha pengemasan ulang. Kenaikan biaya produksi ini berdampak langsung pada tergerusnya margin usaha serta menyempitnya ruang gerak harga jual di tingkat pengecer, agar tetap sesuai dengan daya beli masyarakat.
"Kendalanya itu di bahan baku, terus kemasan, apalagi sekarang apa-apa serba naik. Semua biaya sudah lumayan besar, jadi penjualannya agak sedikit susah."
— Bu Sundari
Menghadapi dinamika harga pasar serta keterbatasan waktu dan modal, Bu Sundari memilih untuk berfokus menjaga kelangsungan usahanya saat ini. Meski memiliki keinginan untuk memperbesar usaha, ia mengaku belum punya rencana khusus dalam waktu dekat. Fokus utamanya sekarang adalah menjaga kualitas produk dan tetap rutin menyalurkan barang ke warung-warung serta pelanggan tetapnya di Balikpapan.