Bagian dari seri wawancara Pentau Project mengenai pelaku usaha mikro di balik rantai distribusi jajanan Kota Balikpapan.
Rantai Panjang di Balik Sebungkus Snack
Suara renyahnya bungkus plastik yang dibuka di sela jam istirahat sekolah seolah jadi pemandangan sehari-hari di sudut Balikpapan. Dari deretan etalase Koperasi SMKN 6 Balikpapan, tangan-tangan murid dengan lincah memilih snack favorit seharga lima ribuan, membayar ke penjual, lalu pergi begitu saja sambil menikmati kemasannya.
Kelihatannya memang sesederhana transaksi cepat di tengah ramainya suasana sekolah. Tapi, apakah kita pernah berpikir sejenak tentang bagaimana sekantong jajanan itu bisa melintasi jalanan kota hingga akhirnya mampir di koperasi sekolah? Sebelum tiba di tangan para siswa, ada rantai distribusi yang cukup panjang — berawal dari distributor besar, melintasi agen-agen lokal, hingga masuk ke dapur pengemasan ulang (repack) milik warga, sebelum akhirnya siap dijajakan.
Salah satu figur di balik keberadaan snack-snack itu adalah Bu Sundari, seorang pengusaha pengemasan kembali tingkat rumah tangga di Balikpapan. Bisnis yang telah beliau tekuni selama 15 tahun ini sejatinya dirintis tanpa sengaja; mulanya Bu Sundari hanya membungkus kudapan untuk kebutuhan keluarganya sendiri. Namun, lantaran cita rasa dan takarannya digemari warga sekitar, beliau memantapkan diri untuk membuat dalam jumlah lebih besar. Setiap minggunya, Bu Sundari mengumpulkan suplai camilan partai besar dari distributor grosir. Dari dapur rumahnya yang sederhana inilah, jajanan berukuran besar tersebut disulap menjadi kemasan hemat yang tak hanya mampir di koperasi sekolah, tapi juga tersebar di berbagai warung warga.
Proses Kerja, Ketelitian, dan Kapasitas Produksi Harian
Masuk ke area dapur rumahnya, proses pengemasan ulang jajanan ini dilakukan secara manual dengan penuh ketelitian. Alurnya dimulai dari membuka pasokan grosir berukuran besar, menimbang jajanan agar takarannya pas, hingga menyusunnya dengan rapi ke etalase.
Meski dikerjakan dengan peralatan sederhana, ritme kerja di dapur ini terbilang cukup produktif. Dalam seminggu, Bu Sundari mampu mengemas 20 hingga 50 bungkus jajanan siap edar. Ketelatenan inilah yang menjaga kualitas jajanan tetap renyah dan bersih sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen.
Tantangan Bu Sundari
Menjalankan usaha pengemasan ulang tentu tak lepas dari dinamika ekonomi. Bu Sundari harus memutar otak menghadapi naiknya harga bahan baku dan plastik kemasan di pasaran. Kenaikan harga ini berdampak langsung pada proses produksi harian, di mana beliau harus tetap menjaga kualitas jajanan agar harganya tak melambung di mata pembeli.
"Susahnya itu di bahan baku, terus kemasan, apalagi sekarang apa-apa serba naik. Semua biaya sudah lumayan besar, jadi penjualannya agak sedikit susah."
— Bu Sundari
Meski begitu, dengan pengelolaan yang cermat, jajanan hasil olahan dapurnya tetap berhasil tersalurkan secara rutin ke berbagai warung kelontong hingga koperasi sekolah di wilayah Balikpapan.
Harapan
Bicara mengenai rencana ke depan, Bu Sundari mengaku belum memiliki target besar yang muluk-muluk. Terbatasnya waktu, modal, serta kondisi ekonomi yang tidak menentu membuatnya memilih untuk fokus menjalani apa yang ada di depan mata. Bagi beliau, harapan terbesarnya saat ini adalah menjaga agar roda usaha repack yang dilakukannya ini bisa terus berputar dan tetap bertahan di tengah berbagai keterbatasan.
Di balik kesederhanaan bungkus jajanan lima ribuan yang biasa kita temui di rak warung maupun koperasi sekolah, ada kerja keras dan keuletan seorang ibu rumah tangga di Balikpapan. Perjuangan Bu Sundari menjadi bukti nyata bagaimana sektor usaha mikro terus menggeliat, menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus penggerak rantai distribusi lokal.